ASafrisno Note

Maret 24, 2009

“ITAKONA METHOD” dan “MANAGEMENT BY COLLECTIVE WISDOM”

Filed under: Tak Berkategori — klaraz @ 8:24 am

29 Januari 2009

 

Dalam pengumuman policy 2009 oleh Management pusat Panasonic Corporation Jepang (sebelumnya Matshusita Electric) pada tanggal 10 Januari 2009 di Osaka, Jepang banyak hal penting yang disampaikan, baik oleh Fumio Ohtsubo  sebagai President, Kunio Nakamura sebagai Chairman of The Board dan juga oleh Yoshida sebagai wakil dari karyawan.

 

Detail penyampaian oleh  Mr. Ohtsubo bisa dilihat di website resmi Panasonic Corporation (http://panasonic.net), namun dalam kesempatan ini saya hanya ingin menyampaikan dan mengulas 2 poin saja, yang mungkin bisa dijadikan satu masukan atau pembahasan  kita bersama yaitu :

  1. ITAKONA METHOD
  2. MANAGEMENT BY COLLECTIVE WISDOM

 

Hal ini saya sampaikan karena dalam kondisi bisnis global yang sedang tidak menentu dalam kurun waktu beberapa bulan ini dan mungkin masih akan berkembang ditahun 2009, dibutuhkan satu ‘ketegaran’ dan ‘lompatan’ dalam cara berpikir dan bekerja yang lebih efficient , effective dan innovative sehingga kita bisa survive / bertahan dalam menghadapi tantangan badai yang sedang menghadang, karena perusahaan-perusahaan raksasapun pada kenyataannya juga terkena imbasnya. GENERAL MOTOR dan AIG keteteran dalam bisnisnya, SONY dan SAMSUNG juga mengumumkan kerugian dalam perhitungan laba rugi tahun fiskal 2008 dan sepertinya PANASONIC (secara global) sendiripun masih belum bisa memastikan bisa membukukan profit di tahun 2008/2009.

 

Melihat kondisi yang sedemikian ‘mencemaskan’ inilah saya coba membuat satu masukan buat kita semua dan juga pengalaman sejarah 1997 yang lalu, bahwa kita (PGI) masih bisa bertahan, yang mungkin bisa dijadikan satu acuan dalam berkarya yang lebih innovative di tahun 2009 ini.

 

ITAKONA METHOD

 

Seperti yang disampaikan oleh Mr. Othsubo dalam pidatonya perihal orientasi produksi (Manufacturing-oriented) dan lebih lanjut dalam pengetatan biaya yang kompetitif (strengthening cost competitive) agar supaya semua orang Panasonic dalam menjalankan semua aktivitasnya tidak terkecuali staff maupun pimpinan harus mengaplikasikan ITAKONA.

 

Sekarang kita jabarkan apa itu “Itakona”. Itakona merupakan bahasa Jepang yang sebenarnya terdiri dari dua kata yaitu ITA yang berarti piring / pelat (plate-Inggris) dan KONA yang berarti bedak / bubuk (powders-Inggris).

 

Itakona dapat diartikan menganalisa biaya (cost) secara detail dalam rangka memusatkan penurunan biaya (cost reduction) secara luas.

 

Didalam pabrikan (manufacture) ITAKONA ini dapat dimaksudkan bahwa cost-down dalam pembuatan product lebih fokus pada bahan-bahan baku yang berasal dari pelat (besi) dan bubuk plastik, baik secara jumlah maupun bentuk sehingga diharapkan bisa menurunkan biaya produksinya.

 

Didalam memproduksi suatu produk, pertama yang harus dilakukan adalah menganalisa atau membuat detail materialnya (cost), kemudian dipilah item mana saja yang terbuat dari besi dan plastik, baru diputuskan item mana saja yang bisa dikurangi bahkan dihilangkan akan tetapi tidak mengurangi fungsinya.

 

Sebagai contoh dalam membuat remote AC, seperti yang kita lihat, bahwa dulu dibutuhkan baut besi sampai dengan 4 buah, dalam perkembangannya dikurangi hingga tinggal 2 buah dan bahkan dihilangkan bautnya karena dirasa cukup dengan model jepit di covernya. Dari bentuk, yang dulunya besar sehingga butuh bahan yang lebih banyak, sekarang ini lebih kecil dan tentunya bahannyapun lebih sedikit, tapi tetap bisa digunakan sesuai fungsinya yaitu sebagai remote control. Itulah maksud Itakona dalam pabrikan atau manufacture, sehingga dapat diperoleh harga yang kompetitif.

 

Tentunya akan berbeda penterjemahannya apabila diterapkan di bagian-bagian selain produksi. Sesuai maknanya yaitu analisa biaya secara detail, semua biaya yang timbul baik itu biaya penjualan, biaya administrasi dan biaya-biaya lainnya harus lebih fokus dianalisa sampai ke detail itemnya, sehingga bisa ditemukan apakah masih bisa dilakukan pengurangan (reducing) sehingga diperoleh biaya yang efesien dan efective (theoritical cost).

 

Dalam penerapannya Mr. Ohtsubo menyampaikan agar dilakukan dengan kebijaksanaan secara bersama (collective wisdom), agar tidak melebihi batas-batas fungsi pekerjaannya dan akan selalu bekerja sama untuk mencapai satu teori biaya yang terdekat.

 

Mr. Ohtsubo juga menambahkan bahwa dalam berbisnis baik pimpinan tertinggi sampai dengan karyawan harus mengunjungi, melihat dan menempatkan diri diposisi terdepan dan mendengarkan suara pekerja ditempatnya.

 

 The company will make use of the collective wisdom beyond borders across job functions, and will work together to get closer to attainable theoretical costs. All Panasonic people, from the top to the employees should visit, see and put themselves in the front line of business and listen to the workers on-site.”

 

 

COLLECTIVE WISDOM

 

Didalam arti kata collective wisdom bisa diartikan sebagai kebijaksanaan secara bersama-sama, namun didalam ilmu manajemen, collective wisdom mempunyai arti yang sangat mendalam dan tinggi nilainya.  Bahkan seorang Professor didalam Managemen Strategis dari London South Bank University, Dr. Bruce Lloyd menyampaikan bahwa “kebijaksanaan  sangat dipertimbangkan menjadi bentuk tertinggi dari pengetahuan – Wisdom is considered to be the highest form of knowledge”.

Apabila dilihat dari urutannya adalah :

DATA à INFORMASI à PENGETAHUAN (KNOWLEDGE) à KEBIJAKSANAAN (WISDOM).

 

Kebijaksanaan tidak bisa dipelajari secara terstruktur seperti kita sekolah atau kursus, akan tetapi kebijaksanaan didapat dari pembelajaran secara terus menerus dari sejarah yang telah lalu sehingga kita dapat melakukan tindakan yang tepat untuk menghasilkan solusi terbaik bagi semua pihak terkait untuk waktu yang lebih panjang.

 

Kebijaksanaan bisa juga diartikan sebagai kendaraan bagi kita untuk menyatukan nilai-nilai yang ada di dalam proses pengambilan keputusan.

 

Untuk bisa lebih memahami arti kata bijaksana (wisdom) mungkin bisa dibaca dari beberapa pernyataan sebagai berikut :

“Data is not information. Information is not knowledge. Knowledge is not understanding. Understanding is not Wisdom.” (Anon)

“ The Function of Wisdom is to discriminate between good and evil”
(Marcus Tullius Cicero)

“Wisdom is the right use of knowledge. To know is not to be wise. Many people know a great deal, and are all the greater fools for it. There is no fool so great a fool as a knowing fool. But to know how to use knowledge is to have wisdom.”
(Charles H. Spurgeon)

“Wisdom is the power that enables us to use our knowledge for the benefit of ourselves and others.”(Thomas J. Watson)

“The more knowledge we have the more wisdom we need to ensure that it is used well.”
(Anon)

“Those who are arrogant with their wisdom are not wise.” (Anon)

Atau bisa dibaca dalam tulisan detailnya di :

http://www.collectivewisdominitiative.org/papers/lloyd_wisdom.htm

Marcus Goncalves seorang pendiri dan presiden dari Marcus Goncalves Consultant yang bermarkas di Metrowest Boston menyatakan :

 

Collective Wisdom bisa dijadikan sebagai alat yang sangat effective dalam memecahkan masalah berkurangnya pengetahuan (knowledge deficit) atau kurang dimanfaatkannya pengetahuan yang dimiliki organisasi. Tidak melihat bahwa anda adalah organisasi yang kecil, sedang ataupun besar, jika tidak bisa memanfaatkan secara maksimal dan bersama-sama pengetahuan yang dimiliki oleh organisasi tersebut, anda mungkin akan kehilangan kesempatan pendapatan yang cukup besar. Dalam studi yang dilakukan oleh Delphi Group, baru kurang lebih 20% dari pengetahuan yang dimiliki perusahaan-perusahaan yang secara actual dipakai.

 

Didalam beberapa studi untuk meningkatkan nilai-nilai pengetahuan yang menurun dibutuhkan suatu bentuk pertemuan / rapat yang strategis (meeting strategy) atau sesi-sesi pencerahan (brainstorming session) ysng lebih intensif, dimana semua anggota organisasi / karyawan bisa dengan bebas menyampaikan ide-ide cemerlang mereka untuk mengatasi kondisi yang sedang dihadapi.

Bentuk rapat-rapat (meeting) yang effective inilah yang bisa dijadikan alat paling jitu dalam penerapan strategi collective wisdom, sehingga bisa mengisi kekurangan pengetahuan dari organisasi. Meeting yang dilakukan bisa dibuat dalam bentuk yang lebih specifik seperti pemberdayaan karyawan, membuat konsep-konsep baru didalam product dan service, strategi penjualan yang jitu, penurunan biaya (cost down)  dan lain-lain.

 

Ide utamanya adalah menjadikan pengetahuan bersama (collective knowledge) yang dimiliki oleh semua anggota organisasi menjadi satu kesatuan memori dan dijadikan sebagai harta / asset dari organisasi / perusahaan yang akan selalu dibawa dan dijaga. Sangat disayangkan dan kadang tidak disadari oleh perusahaan (manajemen) bahwa kebanyakan isi pengetahuan yang dimiliki seringkali hilang begitu saja saat karyawan keluar  (resigned) walau kadang sudah disimpan tetap akan membentuk satu penurunan dalam pengetahuan organisasi.

 

Perlu ditambahkan bahwa sebagus apapun perencanaan dan strategi meeting yang dimiliki, belum bisa menjawab penerapan managemen dengan collective wisdom apabila belum bisa memecahkan isu-isu didalam komunikasi seperti :

  • Komitmen dari manajemen dalam membentuk satu komunikasi dalam perubahan (yang membentuk jurang pemisah) dan inovasi (sebagai jembatan penghubung).
  • Komunikasi yang effective dalam kebijaksanaan bersama (collective wisdom) diantara direksi, manager, staff dan semua anggota organisasi sebagai satu kesatuan yang utuh.
  • Membentuk satu komunikasi collective wisdom untuk internal dan external customer.

 

KESIMPULAN

 

Dari apa yang telah saya paparkan diatas, saya mencoba menyimpulkan sebagai implementasi kebijakan yang telah disampaikan oleh Mr. Fumio Ohtsubo sebagai President Panasonic Corporation dan tak lupa motivasi pantang menyerah dan jangan banyak mengeluh dalam menghadapi tantangan yang selalu disampaikan oleh Bapak Rahmat Gobel sebagai Presiden Komisaris dari PT. Panasonic Gobel Indonesia (PGI), bahwa kita sebagai karyawan PT. PGI khususnya dan juga anggota dari Panasonic Corporation :

  • Menerapkan Itakona sebagai satu cara untuk menjawab krisis global yang sedang dihadapi, sehingga kita bisa bekerja lebih effective dan efficient.
  • Collective Wisdom sebagai satu wacana baru bagi kita semua untuk menyampaikan ide-ide gemilang untuk menjawab tantangan dan memposisikan kita sebagai asset dari perusahaan.

 

Demikian apa yang bisa saya sampaikan sebagai bahan sharing / masukan bagi kita semua, bahwa kondisi sekarang harus kita jawab dengan satu motivasi yang tinggi dan melihat pengalaman yang lalu bahwa kita bisa dan mampu untuk melewatinya.  

Desember 24, 2008

Kenapa Kita Harus Mencatat atau Menulis ?

Filed under: Motivasi Menulis — klaraz @ 9:33 am

Kalau kita lihat diri kita, kadang kita bertanya “Siapa sih saya ini ?”, “Apa saja kemampuan yang saya miliki?”, dan “Sudah sejauh mana kita pergunakan kemampuan kita?” dimana semuanya itu kadang kita sendiri bingung untuk menjawabnya. 

Saya sendiri merasakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya gampang-gampang susah untuk menjawabnya, sehingga saya mencoba mengidentifikasi jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut. 

Tentunya identifikasi tersebut harus kita catat alias ditulis karena apabila tidak ditulis tentunya kita bisa lupa atau tercecer dimana-mana, karena sebenarnya kita tahu bahwa kapasitas memori kita atau otak kita sangatlah terbatas. 

Dari catatan-catatan itulah baru kita bisa pahami dan menjawab setiap pertanyaan di atas. 

Disisi lain, saat kita habis membaca suatu artikel, koran, buku bahkan browsing di internet, sering kejadiannya adalah sehabis baca kita melupakan bahan bacaan tersebut, lagi-lagi karena memang kapasitas memori kita yang memang terbatas. 

Sebagai tambahan acuan Asma Nadia (dalam blognya : http://anadia.multiply.com) menulis lima alasan kenapa kita harus menulis (resensi), yaitu :

  1. Sebagai upaya mengikat makna. Dengan menulis kamu mengikat apa yang kamu baca. Dengan mengikatnya maka kamu tidak akan cepat lupa pada hal2 yang mungkin baik yang ada di buku itu.
  2. Menulis resensi juga merupakan latihan yang baik untuk mengapresiasi sebuah tulisan, dengan elemen-elemennya. Resensi tentu saja bukan sekumpulan pujian terhadap satu buku. Resensi boleh saja merupakan deretan kritikanterhadap buku itu. Sah-sah saja. Tapi dengan meresensinya maka kamu akan memikirkan baik buruknya buku yang kamu baca, dengan lebih dalam. Yang pada berikutnya akan memberimu masukan secara pribadi, kekurangan2 penulis yang tidak boleh dibiarkan ada pada tulisanmu nanti, maupun mencoba mengambil kelebihan2 si penulis, agar juga menjadi milikmu. Khususnya jika kamu ingin menjadi seorang penulis.
  3. Menulis resensi seperti juga diary, surat pembaca, atau blogging, merupakan latihan yang sangat baik untuk menulis. Dengan menulis resensi kamu belajar mengungkapkan gagasan dengan lebih baik.
  4. Menulis resensi, juga membantumu mengingat buku-buku apa yang telah kamu baca. Daripada sekadar membaca, toh kamu sudah membeli buku itu, kenapa tidak sekalian menulis apa kesanmu, apa yang bisa kamu ambil, apa protesmu tentang buku itu. Ini bisa jadi cara baik untuk mengajak temanmu yang lain membaca. Apalagi kalau diam-diam kamu punya koleksi resensi dari semua buku yang kamu baca.
  5. Menulis resensi juga bisa pembelajaran untuk bernalar dalam mentranskripsi teks yang sangat luas ke dalam teks lebih ringkas dengan mengembangkan analisis prioritas terhadap teks yang akan diresensi. Dengan demikian, kecerdasan otak kanan juga lebih terasah.

 

Semoga bermanfaat !!!

Apakah Menulis bisa membuatmu kaya ?

Filed under: Motivasi Menulis — klaraz @ 7:26 am

 

andrea-hirata

kang-abik-002

Jika pertanyaan itu diajukan ke hadapan seorang Ikal a.k.a. Andrea Hirata si Laskar Pelangi atau Kang Abik a.k.a. Habiburahman el-Shirazy si Ayat-Ayat Cinta (AAC), tentu jawabnya seperti Pak SBY-JK bilang: Bisa!

Andrea Hirata

Kang Abik

 

Bagaimana tidak? Keduanya sudah mendulang rupiah dari royalti buku-buku — hasil kerja kreatif tangan dan otak mereka — yang jumlahnya bisa untuk membeli 10 rumah baru di perumahan pinggir kota Surabaya (hitung sendiri, berapa coba?). Jika royalti Kang Abik dari film AAC-nya 10% saja dari biaya produksinya yang 10 milyar, maka itu berarti 1 milyar. Dan itu uang sungguhan semua bentuknya.

Tetapi jika pertanyaan itu saya yang harus jawab, saya akan bilang: Kenapa tidak? Sebuah jawaban yang aman, bukan? — alias jawaban yang ngambang, penuh ketidakpercayaan diri.

Bukannya apa. Ada yang lebih mulia untuk menjadi motivator kita agar semangat menulis dibandingkan gelimang uang. Karena itu, buat saya, uang atau harta hanyalah “akibat” yang “terpaksa” kita terima karena hasil karya kita. Tetapi terlalu naiflah kalau kita menghasilkan karya hanya demi uang, meski itu sah-sah saja.

Kang Abik pun tak pernah membayangkan AAC bakal meledak di pasaran. Novel pembangun jiwa itu dibuatnya ketika ia sakit sebulan lebih setelah mengalami kecelakaan di Semarang, sepulang dari Al-Azhar, Kairo. Novel itu adalah mahar-nya yang bisa ia berikan pada calon istrinya ketika ia memutuskan menikah. Sebuah mahar yang nilai intrinsiknya menembus batas langit dibandingkan nilai nominalnya, yang ternyata begitu berkah, hingga sampai detik ini pun masih memberinya kiriman royalti setiap tiga bulan.

Andrea pun demikian. Ia tak pernah berniat melepaskan Laskar Pelanginya untuk diterbitkan. Ia hanya berniat menghadiahkan cerita itu pada Guru SD yang dipujanya, Bu Muslimah, sebagaimana janjinya yang pernah ia ucapkan dalam hati ketika menyaksikan Bunda Gurunya itu tetap datang berpayung daun pisang ketika hujan deras mengubah kelasnya menjadi kandang kambing nan becek suatu kali saat ia duduk di kelas tiga. Justru salah satu teman Laskar Pelangi-nyalah yang menyetorkan naskah yang masih berbentuk draft itu ke penerbit Bentang Pustaka, secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, dan ternyata booming itu.

Baik Kang Abik maupun Ikal tak pernah merencanakan meraup kekayaan dari hasil karya tulisnya. Karena itu, kekayaan yang datang kemudian dari buah karyanya itu, bagi saya, adalah “akibat” yang “terpaksa” harus mereka terima.

Ada sebuah kekayaan yang bisa kita dapatkan dari menulis, yang itu lebih dahsyat dari kaya harta. Apa itu? Itulah: kaya hati. Dalam istilah James W. Pennebeker, ini ia sebut “Opening Up”; seperti membuka sesuatu dalam arti yang positif. Menulis, katanya, bisa membuang trauma, memperbaiki kondisi psikologis kita, yang memberikan kita rasa lebih nyaman dan lega. Kita akan menjadi pribadi yang tak gampang men-judge dan menghakimi orang lain. Kita akan berkembang menjadi orang yang bisa menerima pendapat orang lain ataupun menilai orang lain secara proporsional. Bukankah ini adalah sebuah kekayaan hati yang tiada taranya?

Apakah guna sekampul uang emas tetapi hati sekeras batu? Ya, ini perumpamaan yang terlalu ekstrem, sih. Tetapi, bukankah memang demikian? Kita kadang terlalu memburu sesuatu — yang mungkin agak mustahil untuk diburu — sementara yang gampang dan ada di hadapan dilepaskan. Seperti kata pepatah, ingin memburu elang di langit, punai di tangan dilepaskan.

Saya tidak mengelak bahwa banyak juga penulis yang mengandalkan kepandaiannya menulis untuk mendapatkan selembar rupiah. Istilahnya, menulis sebagai mata pencaharian. Tetapi alangkah lebih eloknya jika motivasi itu sedikit digeser, sedikit saja, dari sekedar niat untuk mendapatkan materi, menjadi niat menyebarkan ilmu, membebaskan belenggu kepicikan, mencerdaskan bangsa, sharing pengetahuan, dan sebagainya. Sehingga, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil ber-khidmah kepada ilmu, jikalau datang rezeki dari tulisan kita, ada sesuatu “akibat” atau “hasil” lain yang kita dapatkan dan nikmati sebagai berkah.

Lebih elegan, bukan?

Jadi, apakah menulis bisa membuatmu kaya? Kenapa tidak? Setidaknya, kaya hati. Laisal ghinaa ‘an kasrotil aroodh, walaakinnal ghinaa’ ghinaa-un nafs. Bukanlah yang dimaksud kaya itu adalah kaya akan harta, akan tetapi kaya yang sebenarnya itu tidak lain adalah kaya hati.

***

Keterangan.

Penulis : Bachtiar HS : http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com
Sumber gambar: http://fnoor.files.wordpress.com & http://images.google.co.id
Informasi lebih banyak bisa Anda dapatkan di:
- http://sastrabelitong.multiply.com/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Habiburrahman_El_Shirazy

 

Test menulis

Filed under: Tak Berkategori — klaraz @ 3:56 am

Test

Halo dunia!

Filed under: Tak Berkategori — klaraz @ 2:52 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.