ASafrisno Note

Desember 24, 2008

Kenapa Kita Harus Mencatat atau Menulis ?

Filed under: Motivasi Menulis — klaraz @ 9:33 am

Kalau kita lihat diri kita, kadang kita bertanya “Siapa sih saya ini ?”, “Apa saja kemampuan yang saya miliki?”, dan “Sudah sejauh mana kita pergunakan kemampuan kita?” dimana semuanya itu kadang kita sendiri bingung untuk menjawabnya. 

Saya sendiri merasakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya gampang-gampang susah untuk menjawabnya, sehingga saya mencoba mengidentifikasi jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut. 

Tentunya identifikasi tersebut harus kita catat alias ditulis karena apabila tidak ditulis tentunya kita bisa lupa atau tercecer dimana-mana, karena sebenarnya kita tahu bahwa kapasitas memori kita atau otak kita sangatlah terbatas. 

Dari catatan-catatan itulah baru kita bisa pahami dan menjawab setiap pertanyaan di atas. 

Disisi lain, saat kita habis membaca suatu artikel, koran, buku bahkan browsing di internet, sering kejadiannya adalah sehabis baca kita melupakan bahan bacaan tersebut, lagi-lagi karena memang kapasitas memori kita yang memang terbatas. 

Sebagai tambahan acuan Asma Nadia (dalam blognya : http://anadia.multiply.com) menulis lima alasan kenapa kita harus menulis (resensi), yaitu :

  1. Sebagai upaya mengikat makna. Dengan menulis kamu mengikat apa yang kamu baca. Dengan mengikatnya maka kamu tidak akan cepat lupa pada hal2 yang mungkin baik yang ada di buku itu.
  2. Menulis resensi juga merupakan latihan yang baik untuk mengapresiasi sebuah tulisan, dengan elemen-elemennya. Resensi tentu saja bukan sekumpulan pujian terhadap satu buku. Resensi boleh saja merupakan deretan kritikanterhadap buku itu. Sah-sah saja. Tapi dengan meresensinya maka kamu akan memikirkan baik buruknya buku yang kamu baca, dengan lebih dalam. Yang pada berikutnya akan memberimu masukan secara pribadi, kekurangan2 penulis yang tidak boleh dibiarkan ada pada tulisanmu nanti, maupun mencoba mengambil kelebihan2 si penulis, agar juga menjadi milikmu. Khususnya jika kamu ingin menjadi seorang penulis.
  3. Menulis resensi seperti juga diary, surat pembaca, atau blogging, merupakan latihan yang sangat baik untuk menulis. Dengan menulis resensi kamu belajar mengungkapkan gagasan dengan lebih baik.
  4. Menulis resensi, juga membantumu mengingat buku-buku apa yang telah kamu baca. Daripada sekadar membaca, toh kamu sudah membeli buku itu, kenapa tidak sekalian menulis apa kesanmu, apa yang bisa kamu ambil, apa protesmu tentang buku itu. Ini bisa jadi cara baik untuk mengajak temanmu yang lain membaca. Apalagi kalau diam-diam kamu punya koleksi resensi dari semua buku yang kamu baca.
  5. Menulis resensi juga bisa pembelajaran untuk bernalar dalam mentranskripsi teks yang sangat luas ke dalam teks lebih ringkas dengan mengembangkan analisis prioritas terhadap teks yang akan diresensi. Dengan demikian, kecerdasan otak kanan juga lebih terasah.

 

Semoga bermanfaat !!!

Apakah Menulis bisa membuatmu kaya ?

Filed under: Motivasi Menulis — klaraz @ 7:26 am

 

andrea-hirata

kang-abik-002

Jika pertanyaan itu diajukan ke hadapan seorang Ikal a.k.a. Andrea Hirata si Laskar Pelangi atau Kang Abik a.k.a. Habiburahman el-Shirazy si Ayat-Ayat Cinta (AAC), tentu jawabnya seperti Pak SBY-JK bilang: Bisa!

Andrea Hirata

Kang Abik

 

Bagaimana tidak? Keduanya sudah mendulang rupiah dari royalti buku-buku — hasil kerja kreatif tangan dan otak mereka — yang jumlahnya bisa untuk membeli 10 rumah baru di perumahan pinggir kota Surabaya (hitung sendiri, berapa coba?). Jika royalti Kang Abik dari film AAC-nya 10% saja dari biaya produksinya yang 10 milyar, maka itu berarti 1 milyar. Dan itu uang sungguhan semua bentuknya.

Tetapi jika pertanyaan itu saya yang harus jawab, saya akan bilang: Kenapa tidak? Sebuah jawaban yang aman, bukan? — alias jawaban yang ngambang, penuh ketidakpercayaan diri.

Bukannya apa. Ada yang lebih mulia untuk menjadi motivator kita agar semangat menulis dibandingkan gelimang uang. Karena itu, buat saya, uang atau harta hanyalah “akibat” yang “terpaksa” kita terima karena hasil karya kita. Tetapi terlalu naiflah kalau kita menghasilkan karya hanya demi uang, meski itu sah-sah saja.

Kang Abik pun tak pernah membayangkan AAC bakal meledak di pasaran. Novel pembangun jiwa itu dibuatnya ketika ia sakit sebulan lebih setelah mengalami kecelakaan di Semarang, sepulang dari Al-Azhar, Kairo. Novel itu adalah mahar-nya yang bisa ia berikan pada calon istrinya ketika ia memutuskan menikah. Sebuah mahar yang nilai intrinsiknya menembus batas langit dibandingkan nilai nominalnya, yang ternyata begitu berkah, hingga sampai detik ini pun masih memberinya kiriman royalti setiap tiga bulan.

Andrea pun demikian. Ia tak pernah berniat melepaskan Laskar Pelanginya untuk diterbitkan. Ia hanya berniat menghadiahkan cerita itu pada Guru SD yang dipujanya, Bu Muslimah, sebagaimana janjinya yang pernah ia ucapkan dalam hati ketika menyaksikan Bunda Gurunya itu tetap datang berpayung daun pisang ketika hujan deras mengubah kelasnya menjadi kandang kambing nan becek suatu kali saat ia duduk di kelas tiga. Justru salah satu teman Laskar Pelangi-nyalah yang menyetorkan naskah yang masih berbentuk draft itu ke penerbit Bentang Pustaka, secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, dan ternyata booming itu.

Baik Kang Abik maupun Ikal tak pernah merencanakan meraup kekayaan dari hasil karya tulisnya. Karena itu, kekayaan yang datang kemudian dari buah karyanya itu, bagi saya, adalah “akibat” yang “terpaksa” harus mereka terima.

Ada sebuah kekayaan yang bisa kita dapatkan dari menulis, yang itu lebih dahsyat dari kaya harta. Apa itu? Itulah: kaya hati. Dalam istilah James W. Pennebeker, ini ia sebut “Opening Up”; seperti membuka sesuatu dalam arti yang positif. Menulis, katanya, bisa membuang trauma, memperbaiki kondisi psikologis kita, yang memberikan kita rasa lebih nyaman dan lega. Kita akan menjadi pribadi yang tak gampang men-judge dan menghakimi orang lain. Kita akan berkembang menjadi orang yang bisa menerima pendapat orang lain ataupun menilai orang lain secara proporsional. Bukankah ini adalah sebuah kekayaan hati yang tiada taranya?

Apakah guna sekampul uang emas tetapi hati sekeras batu? Ya, ini perumpamaan yang terlalu ekstrem, sih. Tetapi, bukankah memang demikian? Kita kadang terlalu memburu sesuatu — yang mungkin agak mustahil untuk diburu — sementara yang gampang dan ada di hadapan dilepaskan. Seperti kata pepatah, ingin memburu elang di langit, punai di tangan dilepaskan.

Saya tidak mengelak bahwa banyak juga penulis yang mengandalkan kepandaiannya menulis untuk mendapatkan selembar rupiah. Istilahnya, menulis sebagai mata pencaharian. Tetapi alangkah lebih eloknya jika motivasi itu sedikit digeser, sedikit saja, dari sekedar niat untuk mendapatkan materi, menjadi niat menyebarkan ilmu, membebaskan belenggu kepicikan, mencerdaskan bangsa, sharing pengetahuan, dan sebagainya. Sehingga, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil ber-khidmah kepada ilmu, jikalau datang rezeki dari tulisan kita, ada sesuatu “akibat” atau “hasil” lain yang kita dapatkan dan nikmati sebagai berkah.

Lebih elegan, bukan?

Jadi, apakah menulis bisa membuatmu kaya? Kenapa tidak? Setidaknya, kaya hati. Laisal ghinaa ‘an kasrotil aroodh, walaakinnal ghinaa’ ghinaa-un nafs. Bukanlah yang dimaksud kaya itu adalah kaya akan harta, akan tetapi kaya yang sebenarnya itu tidak lain adalah kaya hati.

***

Keterangan.

Penulis : Bachtiar HS : http://bahtiarhs.blog.telkomspeedy.com
Sumber gambar: http://fnoor.files.wordpress.com & http://images.google.co.id
Informasi lebih banyak bisa Anda dapatkan di:
- http://sastrabelitong.multiply.com/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Habiburrahman_El_Shirazy

 

Test menulis

Filed under: Tak Berkategori — klaraz @ 3:56 am

Test

Halo dunia!

Filed under: Tak Berkategori — klaraz @ 2:52 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.